Rabu, 02 November 2011

DENGAN MENULIS DUNIA AKAN MENGENAL KITA

Say it with the writing….!!!!

Tidak ada devenisi yang baku tentang tulisan. Walaupun kau sebesar bahasa Indonesia tetap memuatnya dalam spktrum yang berbeda, yaitu: media informasi yang tidak pupus oleh waktu dan tak lkang oleh zaman. Namun, pengertian rangkaian beberapa huruf yang membenu kata kata dan memiliki ma'na itu berbanding lurus dsengan istilah "tulisan" itu sendiri.

Budaya tulis menulis sudah muncul sejak ratusan ribu tahun yang lalu, seperti halnya surat yang dikirimkan oleh nabi sulaiman kepada ratu bilqis, itupun berupa kertas yang berisikan tulisan. Apalagi dimasa nabi Muhammad media ini menjadi salah satu sarana dakwa nabi dengan dikirimkanya surat ajakan masuk islam kepada para raja raja yang hidup pada masa itu. Tak lebih dari itu al quran juga ditulis dalam mushaf mushaf, coba bayangkan jika al quran disampaikan hanya lewat hafalan lisan para sahabat, mungkin kandunmgan didalamnya mengenai berita berita gembira, aturan aturan nasehat didalamnya akan berbeda beda.

Dunia pemikiran islam modern telah melahirkan banyak sastrawan sastrawati yang tentunya mereka beranggapan bahwa menulis itu merupakan prioritas kesibukan mereka dalam kehidupoanya sehari sehari. Dan pastinya dalam kegioatan tersebut mereka menemukan kemanfaatan tersendiri yang tak jauh beda antar satu dengan yang lain.
Menulis bisa Menjadikan sehat..???

Menulis lebih baik ketimbang operasi pengencangan kulit wajah,'' tanda salah seorang penulis perempuan bernama "fatima mernissi" lahir di vez, maroko 1940 dalam satu bukunya berjudul pemberontakan wanita!" peran intelektual kaum wanita dalam sejarah muslim (mizan 1999), di situpula dia memberikan pesan yang menarik untuk para pembacanya "usahakan menulis setiap hari. Niscaya kulit anda akan menjadi segar kmbali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa!!! Mulai saat anda bangun, menulis mengangkat aktifitas sel, dengan coretan pertama diatas kertas yang kosong kantung di bawah anda akan segera lenyap dan kulit anda akan terasa segar kembali.
Boleh percaya dan boleh juga tidak, memeng agaknya sulit kita menerima anjuran tersebut, tapi mungkin kita bisa berupaya untuk mempraktekanya setelah mencermati penyampaian dari salah seorang psikologis bernama "jams W pennebaker" yang tlah melakukan penelitian selama 15 tahun tentang pengaruh upaya membuka diri, dalam satu karyanya berjudul opening up: the healing power of expessing emotions "bahwa menulis tantang hal hal ngatif akan memberikan emosonal yang mambangkitkan rasa puas dan lega", dia juga mengemukakan menulis tantang pikiran dan perasan terdalam tentang trauma yang mereka alami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif dan kesehatan fisik yang lebih baik.

Sesuda kita amati rubric pikiran mereka yang tak jauh beda antar satu sama lain maka kita tau bahwa salah satu tujuan menulis adalah untuk mencurahkan isi hati, ungkapan perasaan dan kegelisahan jiwa. Seperti yang di tuturkan oleh Fatima mernessi bahwa menulis sebagai ajang terbaik untuk menumpahkan apa saja yang mengusik pikirn dan perasaan. Curahan hati, kata itu selalu identik dengan teman dekat, sahabat, keluarga, dan tempat bercerita tentang kegelisahan jiwa.

Sementara kertas adalah sahabat terbaik untuk menumpahkan isi hati, tak seperti telinga yang akan jenumendengar keluan keluan manja kita. Dengan demikian kita merasa puas dan lega disamping sebelimnya sebelunya kita pasti meluapkanya pada dzat yang mudah terserang penyakit.

Menulis Menjadikan Kita Cerdas???
Manulis merupakan satu satunya senjata yang ampuh untuk mencerdaskan otak pikiran karna menulis itu menuntut si penulis untuk banyak membaca, membaca realita hidup, informasi, buku. So…… itu pasti, karna menulis tanpa membaca bagaikan ruh tanpa raga, mengapa??? Sebab menulis tanpa membaca ia tak mampu menulis apa apa atau hanya sesuatu omong kosong saja yang ia tulis. Seorang penulis fiksi yang tak banyak membaca tapi hanya mengandalkan imajinasi,maka hasilnyapun tak begitu bermakna sehingga bisa dibilang imajinasi tanpa pengalaman adalah hampa.
Disini riset telah jelas menunjukan bahwa belajar menilis itu lewat membaca untuk lebih tapatnya, gaya tulisan itu di proleh lewat membaca sebagaimana yang dipaparkan oleh elly dan munghabai bahwa semakin banyak seseorang membaca maka semakin baik tulisanya.

Menurut pernyataan yang disampaikan oleh smith, alasan seseorang dalam menulis setidaknya karna 2 hal. Pertama menulis untuk berkomunikasi dangan orang lain,Ini yang paling nyata. Kedua, untuk memperjelas dan merangsang pikiran, dan ini yang mungkin yang lebih penting karna saat pemikiran tumpah di atas kertas akan tercipta pemikiran yang lebih baik.
Pannebakir, mengemukakan bahwa menulis merupakan sebuah aktifitas manusia yang alami, diantara nilai yang diberikanya adalah mambantu m,anusia memadukan dan menata kehidupan yang kompleks, dalam aktifitas ini dia menunjukkan berbagai manfaat menulis yang akan tersaji berikut ini:
1. Menulis menjernikan pikiran.
2. Menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi.
3. Menuli bebas membantu kita ketika terpaksa harus menulis.
4. Menulis mengatasi trauma yang menghalangi penyelesaian tugas tugas penting. Menurut kebiasaan yang berlaku, orang orang yang mengalami sebuah kemelut yang besar cenderung dihantui kejadian itu. Dia memusatkan pikiran hanya pada problem yang ia hadapi. Sehingga hal hal lainpun terabaikan maka kegiatan menu;lis dapat meringankan beban pikiranya.
5. Menulis membantu menyelesaikan masalah. Sebab seseoarang yang menuli ssebuah masalah yang rumit yang sedang ia hadapi. Ia harus memusatkan perhatianya pada satu topik tertantu tanpa perlu banyak berfikir, hingga ia temukan problem solving dengan mudah.
Karnanya, santri tak hanya identik dengan kajian kitab kuning, tapi ia juga harus bisa menjadi seorang jurnalis sejatidengan misi amar makruf nahi munkar ditengah pesatnya arus informasi yang semakin melesat jauh dari tuntunan islam. So… be journalist!!!!!

                                                                                                                              By: ro'fatul ummah el faruq

Tidak ada komentar:

Posting Komentar